Part 1
Assalamu’alaikum,
Assalamu’alaikum,
Aku ingin bercerita sedikit
tentang murobbi, kamu tau apa itu murobbi?
Mungkin di antara kalian ada yang tau dan sebaliknya. Bagi yang belum tau, akan kujelaskan. Murobbi adalah seseorang yang rela mengorbankan dirinya, rela berbagi ilmu agama, rela meluangkan waktunya untuk para muridnya, rela berjalan jauh untuk bertemu dengan para muridnya tanpa biaya sepeser pun. Murobbi ini adalah sebuah panggilan dalam suatu ta’lim kecil bernama mentoring atau halaqah atau liqo. Nah, bagaimana? Sudah jelas belum? Aku harap sudah paham ya.. ^_^
Mungkin di antara kalian ada yang tau dan sebaliknya. Bagi yang belum tau, akan kujelaskan. Murobbi adalah seseorang yang rela mengorbankan dirinya, rela berbagi ilmu agama, rela meluangkan waktunya untuk para muridnya, rela berjalan jauh untuk bertemu dengan para muridnya tanpa biaya sepeser pun. Murobbi ini adalah sebuah panggilan dalam suatu ta’lim kecil bernama mentoring atau halaqah atau liqo. Nah, bagaimana? Sudah jelas belum? Aku harap sudah paham ya.. ^_^
Aku tak mengerti pola pikir para
murobbi (ikhwan)/murobbiyah (akhwat), mengapa mereka rela mati-matian berbagi
ilmu dengan para muridnya? Jelas, tak ada ikatan saudara kandung, sepupu,
keponakan, dan bla bla (intinya yang satu keluarga besar). Tapi, mengapa? Mengapa?
Mereka begitu antusias mengajarkan para muridnya padahal jelas sudah kujelaskan
bahwa mereka tidak digaji sepeser pun! Hmm.. baiklah, biar kupikirkan…
Menurutku, jawabannya “karena
itu adalah panggilan dakwah” Yup! Lagi-lagi hadir kata dakwah, karena pada
dasarnya dakwah itu menyeru kebaikan, bukan? Dakwah tak hanya di atas mimbar,
tapi begitu banyak cara yang bisa dilakukan dalam menyerukan kebaikan. Kamu
taulah, bahkan kulihat masyarakat sekarang, ohh bukan “masyarakat” tapi “diriku”
lebih dominan berdakwah di sosial media. Aku? Berdakwah? Kesannnya seperti
memuji diri sendiri, hehe. Tidak! Sungguh tak ada niat ujub, setiap orang ada
celah untuk menyampaikan kebaikan, bukan? -ya begitulah.
Kupikir, para murobbi/murobbiyah
paham tentang dakwah, maka dari itu mereka menyerukan kebaikan dalam bentuk
halaqah dan berbagi ilmu kepada para muridnya, karena ilmu yang bermanfaat
adalah suatu amalan yang tidak terputus sampai di akhirat nanti. Tapi kulihat,
halaqah ini berjamur di kalangan mahasiswa dan siswa yang berdarah aktivis
dakwah kampus atau sekolah, amat jarang non aktivis dakwah kampus (ADK) dan non
aktivis dakwah sekolah (ADS) yang terikat dengan halaqah. (Perhatikan, aku
memakai kata “jarang” artinya ada juga non ADK dan non ADS yang mengikuti
halaqah)
Perlahan, semua ada prosesnya
bukan? Harus ada tangga untuk ke atas bukan? Seperti itulah para non ADK dan
non ADS, lambat naun aku yakin akan tiba saatnya, mereka terikat dengan
halaqah. Yakinlah ^^. Hanya perlu berta’aruf dengan mereka mengenai halaqah
tersebut dan menjelaskan pentingnya halaqah untuk diri seseorang.
Mengapa kukatakan penting?
Karena halaqah itu bersifat mengikat, di dalam halaqah itu kita tak hanya
mendapat ilmu, bertukar informasi tetapi di dalam ta’lim kecil itu yang hanya
terdiri maksimal 12 orang tersebut kita bisa menjaga amal yaumiyyah (ibadah
harian) kita. Menjaga tilawah, shalat, bahkan keluarga dan teman sekali pun.
Itulah pentingnya, itulah ikatannya yang jarang ditemukan di tempat lain.
Halaqah itu bernyawa (perumpamaan).
Nyawanya adalah ukhuwah islamiyah, bila para muridnya semakin hari semakin terkikis
apalah artinya halaqah. Karena halaqah tak mungkin ada bila tak ada murobbi,
murid, dan ukhuwah islamiyah.
To be continued…
10 Juli 2015
-Mufd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar