Laman

10 Juli 2015

Cahaya Halaqah

Part 1
 
Assalamu’alaikum,

                Aku ingin bercerita sedikit tentang murobbi, kamu tau apa itu murobbi?


Mungkin di antara kalian ada yang tau dan sebaliknya. Bagi yang belum tau, akan kujelaskan. Murobbi adalah seseorang yang rela mengorbankan dirinya, rela berbagi ilmu agama, rela meluangkan waktunya untuk para muridnya,  rela berjalan jauh untuk bertemu dengan para muridnya tanpa biaya sepeser pun. Murobbi ini adalah sebuah panggilan dalam suatu ta’lim kecil bernama mentoring atau halaqah atau liqo. Nah, bagaimana? Sudah jelas belum? Aku harap sudah paham ya.. ^_^

                Aku tak mengerti pola pikir para murobbi (ikhwan)/murobbiyah (akhwat), mengapa mereka rela mati-matian berbagi ilmu dengan para muridnya? Jelas, tak ada ikatan saudara kandung, sepupu, keponakan, dan bla bla (intinya yang satu keluarga besar). Tapi, mengapa? Mengapa? Mereka begitu antusias mengajarkan para muridnya padahal jelas sudah kujelaskan bahwa mereka tidak digaji sepeser pun! Hmm.. baiklah, biar kupikirkan…

                Menurutku, jawabannya “karena itu adalah panggilan dakwah” Yup! Lagi-lagi hadir kata dakwah, karena pada dasarnya dakwah itu menyeru kebaikan, bukan? Dakwah tak hanya di atas mimbar, tapi begitu banyak cara yang bisa dilakukan dalam menyerukan kebaikan. Kamu taulah, bahkan kulihat masyarakat sekarang, ohh bukan “masyarakat” tapi “diriku” lebih dominan berdakwah di sosial media. Aku? Berdakwah? Kesannnya seperti memuji diri sendiri, hehe. Tidak! Sungguh tak ada niat ujub, setiap orang ada celah untuk menyampaikan kebaikan, bukan? -ya begitulah.
               
                Kupikir, para murobbi/murobbiyah paham tentang dakwah, maka dari itu mereka menyerukan kebaikan dalam bentuk halaqah dan berbagi ilmu kepada para muridnya, karena ilmu yang bermanfaat adalah suatu amalan yang tidak terputus sampai di akhirat nanti. Tapi kulihat, halaqah ini berjamur di kalangan mahasiswa dan siswa yang berdarah aktivis dakwah kampus atau sekolah, amat jarang non aktivis dakwah kampus (ADK) dan non aktivis dakwah sekolah (ADS) yang terikat dengan halaqah. (Perhatikan, aku memakai kata “jarang” artinya ada juga non ADK dan non ADS yang mengikuti halaqah)

                Perlahan, semua ada prosesnya bukan? Harus ada tangga untuk ke atas bukan? Seperti itulah para non ADK dan non ADS, lambat naun aku yakin akan tiba saatnya, mereka terikat dengan halaqah. Yakinlah ^^. Hanya perlu berta’aruf dengan mereka mengenai halaqah tersebut dan menjelaskan pentingnya halaqah untuk diri seseorang.

                Mengapa kukatakan penting? Karena halaqah itu bersifat mengikat, di dalam halaqah itu kita tak hanya mendapat ilmu, bertukar informasi tetapi di dalam ta’lim kecil itu yang hanya terdiri maksimal 12 orang tersebut kita bisa menjaga amal yaumiyyah (ibadah harian) kita. Menjaga tilawah, shalat, bahkan keluarga dan teman sekali pun. Itulah pentingnya, itulah ikatannya yang jarang ditemukan di tempat lain.

                Halaqah itu bernyawa (perumpamaan). Nyawanya adalah ukhuwah islamiyah, bila para muridnya semakin hari semakin terkikis apalah artinya halaqah. Karena halaqah tak mungkin ada bila tak ada murobbi, murid, dan ukhuwah islamiyah.

To be continued…

10 Juli 2015
-Mufd

Tidak ada komentar:

Posting Komentar